Kunci KEBAHAGIAAN
Bismillaah, walhamdulillaah, wash sholaatu wassalaamu alaa rosuulillaah, wa alaa aalihii wa shohbihii wa man waalaah…
Bismillaah, walhamdulillaah, wash sholaatu wassalaamu alaa rosuulillaah, wa alaa aalihii wa shohbihii wa man waalaah…
Menindak lanjuti anjuran Syeikh Abdur Rozzaq -hafizhohulloh-
dalam tabligh akbarnya -(di Masjid Istiqlal 1 Shofar 1431 / 17 Januari
2010)- untuk menyebarkan uraian Ibnul Qoyyim tentang kunci
kebahagiaan, maka pada kesempatan ini, kami berusaha menerjemahkannya
untuk para pembaca, semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua…
SEBAB-SEBAB LAPANGNYA DADA
(1) Sebab utama lapangnya dada adalah: TAUHID.
Seperti
apa kesempurnaan, kekuatan, dan bertambahnya tauhid seseorang, seperti
itu pula kelapangan dadanya. Alloh ta’ala berfirman:
أَفَمَن شَرَحَ اللهُ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِّنْ رَبِّه [الزمر: 22].
Apakah
orang yang dibukakan hatinya oleh Alloh untuk menerima Islam, yang
oleh karenanya dia mendapat cahaya dari Tuhannya, (sama dengan orang
yang hatinya membatu?!)
Alloh juga berfirman:
فَمَنْ
يُرِدِ اللهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلاَمِ، وَمَن
يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجاً كَأَنَّمَا
يَصَّعَّدُ فِى السَّمَاءِ [الأنعام: 125].
Barangsiapa
dikehendaki Alloh mendapat hidayah, maka Dia akan membukakan hatinya
untuk menerima Islam. Sedang barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat,
maka Dia akan jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia sedang
mendaki ke langit.
Maka,
petunjuk dan tauhid adalah sebab utama lapangnya dada. Sebaliknya
syirik dan kesesatan, adalah sebab utama sempit dan gundahnya dada.
(2) Diantara sebab lapangnya dada adalah: Cahaya yang ditanamkan Alloh ke dalam hati hamba-Nya, yakni CAHAYA IMAN.
Sungguh
cahaya itu akan melapangkan dan meluaskan dada, serta membahagiakan
hati. Apabila cahaya ini hilang dari hati seorang hamba, maka hati itu
akan menjadi ciut dan gundah, sehingga menjadikannya berada dalam
penjara yang paling sempit dan sulit.
At-Tirmidzi meriwayatkan dalam kitab Jami’nya, bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam-
bersabda: “Jika cahaya (iman) itu masuk ke dalam hati, maka ia akan
menjadi luas dan lapang”. Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai
Rosululloh, lalu apa tanda-tandanya?” Beliau menjawab: “(Tandanya adalah
jika hatinya menginginkan) kembali ke rumah keabadian, menjauh dari
rumah kepalsuan, dan bersiap-siap menghadapi kematian sebelum ia
datang”.
Maka,
seorang hamba akan mendapatkan kelapangan dadanya, sesuai bagiannya
dari cahaya (iman) ini. Hal ini menyerupai cahaya dan kegelapan yang
kasat mata, karena cahaya dapat melapangkan hati, sedang kegelapan bisa
menciutkannya.
(3) Diantaranya lagi adalah: ILMU.
Ilmu
akan melapangkan dada dan meluaskannya, hingga ia bisa menjadikannya
lebih luas dari dunia. Sebaliknya kebodohan bisa menjadikan hati ciut,
terkepung, dan terpenjara. Semakin luas ilmu seorang hamba, maka
semakin lapang dan luas pula dadanya. Tentu, hal ini tidak berlaku
untuk semua ilmu, akan tetapi hanya untuk ilmu yang diwariskan dari
Rosul -shollallohu alaihi wasallam, yakni ilmu yang bermanfaat.
Oleh karena itu, ahli ilmu menjadi orang yang paling lapang dadanya,
paling luas hatinya, paling bagus akhlaknya, dan paling baik hidupnya.
(4) Diantaranya lagi adalah: Kembali kepada Alloh ta’ala,
mencintai-Nya sepenuh hati, menghadap pada-Nya, dan mencari kenikmatan
dalam mengibadahi-Nya. Karena, tidak ada sesuatu pun yang lebih mampu
melapangkan dada seorang hamba melebihi itu semua, hingga kadang hati
itu mengatakan: “Seandainya di dalam surga nanti, keadaanku seperti ini,
maka sungguh itu berarti aku dalam kehidupan yang baik”.
Sungguh
kecintaan itu memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam melapangkan
dada, membaikkan jiwa, dan menikmatkan hati. Tidak ada yang tahu hal
itu, kecuali orang yang pernah merasakannya. Dan ketika cinta itu
semakin kuat dan hebat, maka saat itu pula dada menjadi semakin luas
dan lapang.
Dan
hati ini tidak akan menciut, kecuali saat melihat para pengangguran
yang kosong dari hal ini. Sungguh melihat mereka hanya akan mengotorkan
mata hati, dan berkumpul dengan mereka hanya akan membuat gerah jiwa.
Diantara sebab utama ciutnya dada adalah: Berpalingnya hati dari Alloh ta’ala, bergantungnya hati pada selain-Nya, lalainya hati dari mengingat-Nya, dan kecintaan hati pada selain-Nya.
Karena,
barangsiapa mencintai sesuatu selain Alloh, niscaya ia akan disiksa
dengannya, dan hatinya akan terpenjara oleh kecintaannya pada sesuatu
tersebut.
Sehingga tiada orang di muka bumi ini, yang lebih sengsara, lebih penat, lebih buruk, dan lebih payah hidupnya melebihinya.
Maka, di sini ada dua cinta:
(a)
Cinta yang merupakan: surga dunia, kebahagiaan jiwa, dan kelezatan
hati. Cinta yang merupakan kenikmatan, santapan, dan obatnya ruh.
Bahkan dialah kehidupan ruh dan sesuatu yang paling disenanginya.
Dialah cinta kepada Alloh semata dengan sepenuh hati, dan
tertariknya semua kesenangan, keinginan, dan kecintaan hati hanya
kepada-Nya.
(b)
Dan cinta yang merupakan: siksaan ruh, kegundahan jiwa, penjara hati,
dan sempitnya dada. Dialah sebab sakit, susah, dan beratnya jiwa.
Itulah kecintaan kepada selain Alloh subhanahu wa ta’ala.
(5) Diantara sebab-sebab lapangnya dada adalah: Melanggengkan dzikir
(mengingat)-Nya di segala tempat dan masa. Karena, dzikir itu memiliki
pengaruh yang menakjubkan dalam melapangkan dada dan menikmatkan hati.
Sebaliknya, lalai memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menciutkan,
memenjarakan, dan menyiksa hati seorang hamba.
(6) Diantaranya lagi adalah: Membantu orang lain,
dan memberikan manfaat kepada mereka, dengan apa yang ia mampui, dari
hartanya, kedudukannya, badannya, dan berbagai macam kebaikan untuk
orang lain.
Oleh
karena itu, orang yang dermawan dan punya banyak jasa, adalah orang
yang paling lapang dadanya, paling baik jiwanya, dan paling nikmat
hatinya. Sedangkan si bakhil yang tidak punya jasa baik, adalah orang
yang paling sempit dadanya, paling buruk hidupnya, dan paling banyak
gundah gulananya.
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah memberikan perumpamaan untuk si bakhil dan sang dermawan dalam sebuah hadits shohih
(riwayat Muslim: 1021), yaitu: Seperti dua orang yang mempunyai baju
perang dari besi. Setiap kali sang dermawan ingin bersedekah, baju besi
itu menjadi tambah luas dan lebar, hingga ia menyeret bajunya dan
menjadi panjang jejaknya. Sedangkan si bakhil, setiap kali ingin
bersedekah, maka semua lingkaran rantai (yang menjadi penghubung
rangkaian baju besi) itu menetapi tempatnya, dan tidak melebar hingga
tidak cukup untuknya.
Maka,
inilah perumpamaan lapang dan luasnya dada seorang mukmin yang
dermawan, dan ini pula perumpamaan ciut dan sempitnya dada si bakhil.
(7) Dan diantaranya lagi adalah: Keberanian.
Makanya seorang pemberani adalah seorang yang lapang dadanya, serta luas jiwa dan hatinya.
Sedangkan
pengecut, adalah seorang yang paling ciut dadanya, dan paling terbatas
hatinya. Ia tidak memiliki kesenangan dan kebahagiaan. Ia juga tidak
memiliki kenikmatan, kecuali kenikmatan yang dirasakan oleh hewan saja.
Adapun
kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan, dan kesenangan jiwa, maka itu
tidak akan diberikan kepada mereka yang pengecut, sebagaimana ia tidak
diberikan kepada mereka yang bakhil, dan mereka yang berpaling dari
Alloh subhanah, lalai dari mengingat-Nya, jahil dengan-Nya,
dengan nama-namaNya, dengan sifat-sifatNya, dan dengan agama-Nya, serta
hatinya tergantung dengan selain-Nya.
Sungguh
kenikmatan dan kebahagiaan ini, akan menjadi taman dan surga di alam
kubur nanti. Sebaliknya keciutan dan kesempitan hati mereka, akan
menjadi siksaan dan penjara di alam kuburnya.
Maka,
keadaan hamba di alam kubur nanti, itu seperti keadaan hati di dalam
dada, baik dalam hal kenikmatan, siksaan, kebebasan, maupun
terpenjaranya.
Dan
bukan patokan, bila ada kelapangan hati bagi si ini, dan keciutan hati
bagi si itu, karena adanya sesuatu yang datang. Karena ia akan hilang
dengan hilangnya sesuatu yang datang itu. Akan tetapi yang menjadi
patokan adalah sifat yang menancap di hati, yang dapat membuatnya
lapang atau ciut. Itulah timbangannya… Wallohul musta’an.
(8) Diantaranya lagi -bahkan ini salah satu yang utama- adalah: Membersihkan hati dari kotoran, seperti sifat-sifat tercela yang menyebabkan hati menjadi ciut, tersiksa, dan menghalangi kesehatannya.
Karena,
jika sebab-sebab lapangnya hati itu datang kepada seseorang, sedang ia
belum mengeluarkan sifat-sifat tercela itu dari hatinya, maka ia tidak
akan mendapatkan kelapangan hati yang berarti. Hasil akhirnya adalah
adanya dua materi yang memenuhi hatinya, dan hatinya akan dikuasai oleh
apa yang lebih banyak menempati hatinya.
(9) Dan diantaranya lagi adalah: Meninggalkan setiap yang berlebihan,
baik dalam ucapan, penglihatan, pendengaran, pergaulan, makanan,
ataupun tidur. Karena sikap berlebihan dalam ini semua, dapat
menyebabkan hati menjadi sakit, gundah, resah, terkepung, terpenjara,
ciut, dan tersiksa karenanya. Bahkan kebanyakan siksaam dunia dan
akhirat, bersumber darinya.
Maka, laa ilaaha illallooh…
betapa ciutnya dada orang yang menyimpan semua penyakit ini, betapa
susah hidupnya, betapa buruk keadaannya, dan betapa terkepung hatinya…
Dan Laa ilaaha illallooh…
betapa nikmatnya kehidupan seseorang yang dadanya menyimpan semua
sifat yang terpuji itu, serta cita-citanya berputar dan mengitari semua
sifat itu. Tentulah orang ini memiliki bagian yang agung dari firman
Alloh ta’ala:
إنَّ الأَبْرَارَ لَفِى نَعِيم [الانفطار: 13]
Sesungguhnya orang yang baik amalannya, berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.
Adapun yang itu, mereka memiliki bagian yang besar dari firman-Nya:
وإنَّ الفُجَّارَ لَفِى جَحِيمٍ [الانفطار: 14]
Sesungguhnya orang-orang yang buruk amalannya, berada dalam neraka (yang penuh kesengsaraan)
Dan diantara keduanya ada banyak tingkatan yang berbeda-beda, tiada yang dapat menghitungnya, kecuali Alloh tabaaroka wa ta’aala.
Maksud kami (membawakan pembahasan ini adalah agar kita tahu): Bahwa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- adalah makhluk yang paling sempurna dalam semua sifat terpuji yang bisa menjadikan kelapangan dada, keluasan hati, qurrotu ain, dan kehidupan jiwa. Oleh karena itulah, beliau menjadi makhluk yang paling sempurna dalam kelapangan dada, kehidupan hati, dan qurrotu ain. Belum lagi keistimewaan beliau dalam kelapangan hidup yang bisa dilihat mata.
Dan makhluk yang paling sempurna dalam menirunya, dialah makhluk yang paling sempurna dalam kelapangan, kelezatan, dan qurrotu ainnya. Seperti apa seorang hamba dalam meniru beliau, maka seperti itu pula ia akan mendapatkan kelapangan dada, qurrotu ain, dan kelezatan jiwanya.
Maka, beliau -shollallohu alaihi wasallam-
adalah orang yang menempati posisi puncak kesempurnaan dari kelapangan
dada, kemuliaan nama, dan minimnya dosa. Dan bagi pengikutnya dalam
semua itu, ada bagian yang sesuai dengan kadar pengikutannya kepada
beliau… wallohul musta’an.
Dan
demikian pula (dalam hal lainnya), bagi pengikut beliau, ada bagian
dari perlindungan, penjagaan, pembelaan, pemuliaan, pertolongan Alloh
untuk mereka, tergantung porsi peneladanan mereka terhadap beliau. Ada
yang dapat bagian sedikit, ada juga yang dapat bagian banyak. Maka
barangsiapa yang mendapati kebaikan pada dirinya, maka hendaklah ia
memuji Alloh. Adapun yang mendapati selain itu, maka janganlah ia
mencela selain dirinya.
(Bagi
yang ingin membaca naskah aslinya dalam bahasa arab, silahkan
merujuknya ke kitab Zaadul Ma’aad, karya Ibnul Qoyyim, jilid 2, hal.
23)
assalamualaikum wr wb....
BalasHapussalam takhdim saya bwt mbak2 seven girls
(bner ngk yahh)
karena saya suka dengan karya2 anak2 al-musthofa, jdi izin kiranya utk mengikuti blog anda
terimah kasih...
wassalamu alaikum wr wb
nggEEeehh sama2.......,
BalasHapus